Sensasi Lebaran 1432 H :)

Tahun 2011 merupakan tahun yang penuh barokah buat aku, dan ditahun inilah aku melewatkan lebaran idul fitri 1432H dengan cara yang berbeda dari lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Yang membuatku bahagia adalah, lebaran tahun ini aku melewatinya bersama seorang suami, suami yang menyayangiku, suami yang benar-benar mengayomi dan mengasihiku. Lebaran ini, aku diberi kesempatan olehnya untuk dapat lebih dekat dengan keluarganya. Keluarganya yang penuh kesederhanaan, juga keluarga besarnya yang sangat bersahabat. Tapi ada juga yang membuat aku sedih, lebaran ini aku melewatkan tanpa keluargaku, tanpa mama, bapak, juga adik-adikku. Walau bagaimanapun, aku tetap harus mengutamakan suamiku, alhamdulilah..kita pun mendapatkan kata sepakat..lebaran dikeluarganya..dan minggu pertama setelah lebaran, dikeluargaku.

Ada hal yang amat berkesan buat aku di lebaran tahun ini, kalau biasanya aku ga pernah melakukan yang namanya “MUDIK”, kalaupun melakukan tradisi mudik biasanya aku dari Tegal ka Jakarta, atau dari Purwokerto ke Jakarta. Selalu menentang atau kebalikannya arus mudik. Tapi tahun ini, aku dan suamiku melakukan mudik dari Jakarta ke Sidareja (salah satu daerah di Cilacap). Awalnya kami bimbang akan menggunakan transportasi apa untuk mudik, tapi pada akhirnya kami berdua memutuskan untuk mudik menggunakan “CUMI”, cumi ini nama sepeda motor pulsar hitam 220 milik suamiku, singkatan dari “CUMa Item” hahahah. Dan kami putuskan untuk lewat jalur selatan. Dengan bermodal CUMI dan GPS dari HP, kami melakukan mudik pertama kami dengan sepeda motor. Bismilahitawakaltu alallahalaulawalakuwataillabillahilaliyyiladzim πŸ™‚

Ini Loh Penampakan si CUMI

Ini Loh Penampakan si CUMI

Kami mulai perjalanan sabtu pagi pukul 5pagi dari rumah orangtuaku di cengkareng. Saat kami sampai daerah Kalimalang, ada hal yang menarik perhatian kami. Yaitu seorang pengendara sepeda motor yang memasangkan selembar kardus dibawah plat nomor bagian belakang motornya, kardus tersebut tidak kosong, tapi ada tuylisannya. Awalnya kita kira dia rombongan pemudik juga, tapi dia tidak bawa apa-apa, hmmm…setelah lebih dekat, baru kami tersenyuml..ternyata tulisannya : “Kami segenap warga betawi asli mengucapkan selamat mudik lebaran, hati-hati dijalan dan mohon maaf lahir batin” kurang lebih isinya seperti itu. πŸ™‚ Tidak sedikit yang melewati orang tersebut memberikan jempol kanannya, senyum dan klakson..menandakan mereka menghargai tindakannya tersebut. Sayang aku dan suamiku tidak bisa ikutan memberi jempol, karena saat kami sejajar dengannya, dia berada di sebelah kiri kami, rasanya kurang sopan, tapi itu awal yang sangat berkesan untuk perjalanan mudik kami. πŸ™‚

Katena ini mudik pertama kami, kami berdua sangat memperhatikan jalanan, kali-kali ada petunjuk jalan yang terlewat, karena rencananya kami akan mengambil jalur selatan, kami mencari-cari arah purwakarta dan bandung..tapi sayang, semua arah menunjukan ke cirebon dan jateng..jadilah kami terseret arus mudik ke arah sana. ‘Ami terjebak kemacetan cukup lama di sawah-sawah daerah karawang, untungnya bukan cuma kami, tapi ada ratusan pemudik motor lainnya yang terjebak bersama kami, dalam hati kami berpikir, “hehehe, yang odong bukan cuma kita ternyata…kita ga sendirian :)”Dan ditengah kemacetan tersebut, Cumi mogok, mesinnya kepanasan, jadilah di tempat tersebut kami melakukan istirahat yang pertama dalam perjalanan kami. Sambil menunggu suamiku memperbaiki Cumi, aku berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Jujur..”Aku ga ngerti mereka ngomong apa”, mereka menggunakan bahasa sunda, tapi untungnya..mimik mereka aku masih bisa nangkap sedikit apa yang mereka maksud. Sekitar setengah jam lebih kami disitu, dan setelah cumi siap melakukan perjalanan kembali, suamiku menanyakan arah ke purwakarta kepada penduduk setempat, syukurlah dia bisa sedikit bahasa sunda, karena dulu pernah PKL di tasikmalaya 2bulan.. πŸ™‚ Next, kita lanjut perjalanan…

Jalur selatan benar-benar bikin aku terpesona, keadaan jalannya yang naik turun, berputar-putar melalui bukit-bukit..dipinggiran jalannya dihiasi dengan pepohonan…kadang sesekali kita melewati hutan pinus, hutan karet, bahkan perkebunan tehh…sejuk. Belum lagi sesekali aku mengucapkan “subhanallah” karena pemandangan alam yang sangat indah, bentangan sawah dengan susunan teraseringnya yang beragam, dan bukit-bukit indah dengan air terjun, atau jembatan serta rel kereta diantaranya. Luar biasa Maha Pintar Allah, yang telah menciptakan alam semesta yang indah. Pemandangan ini sangat berbeda dengan pantura, aku biasanya lebih sering melewati pantai-pantai atau tempat pembuatan garam..maklum namanya juga pantura “pantai utara” πŸ™‚

Sampai di nagrek, kami agak kesal..karena terjebak kemacetan hampir 4jam..di sepanjang jalur nagrek ciawi. Apalagi kondisi jalannya yang lebih banyak turunan curam, membuat suamiku harus istirahat berkali-kali karena lelah, menahan bebanku dan mengendalikan motor kopling. Sekitar magrib kami sampai ditasikmalaya kota..jalanan mulai lengang, mungkin pemudik yang lain sedang beristirahat, kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, kami melaju terus, dan syukurlah jam 8 malam, kami sudah sampai di sidareja dengan selamat. Sayangnya sampai disana, kondisiku melemah, aku kedinginan. Mungkin karena kaget, pergantian cuaca, aku biasa panas dijakarta, dan sesampainya disana, dingin…Tapi secara garis besar, aku sangat menikmati perjalanan tadi..sungguh berkesan. πŸ™‚

-berrsambung-a. Yang membuatku bahagia adalah, lebaran tahun ini aku melewatinya bersama seorang suami, suami yang menyayangiku, suami yang benar-benar mengayomi dan mengasihiku. Lebaran ini, aku diberi kesempatan olehnya untuk dapat lebih dekat dengan keluarganya. Keluarganya yang penuh kesederhanaan, juga keluarga besarnya yang sangat bersahabat. Tapi ada juga yang membuat aku sedih, lebaran ini aku melewatkan tanpa keluargaku, tanpa mama, bapak, juga adik-adikku. Walau bagaimanapun, aku tetap harus mengutamakan suamiku, alhamdulilah..kita pun mendapatkan kata sepakat..lebaran dikeluarganya..dan minggu pertama setelah lebaran, dikeluargaku.

Ada hal yang amat berkesan buat aku di lebaran tahun ini, kalau biasanya aku ga pernah melakukan yang namanya “MUDIK”, kalaupun melakukan tradisi mudik biasanya aku dari Tegal ka Jakarta, atau dari Purwokerto ke Jakarta. Selalu menentang atau kebalikannya arus mudik. Tapi tahun ini, aku dan suamiku melakukan mudik dari Jakarta ke Sidareja (salah satu daerah di Cilacap). Awalnya kami bimbang akan menggunakan transportasi apa untuk mudik, tapi pada akhirnya kami berdua memutuskan untuk mudik menggunakan “CUMI”, cumi ini nama sepeda motor pulsar hitam 220 milik suamiku, singkatan dari “CUMa Item” hahahah. Dan kami putuskan untuk lewat jalur selatan. Dengan bermodal CUMI dan GPS dari HP, kami melakukan mudik pertama kami dengan sepeda motor. Bismilahitawakaltu alallahalaulawalakuwataillabillahilaliyyiladzim πŸ™‚

Kami mulai perjalanan sabtu pagi pukul 5pagi dari rumah orangtuaku di cengkareng. Saat kami sampai daerah Kalimalang, ada hal yang menarik perhatian kami. Yaitu seorang pengendara sepeda motor yang memasangkan selembar kardus dibawah plat nomor bagian belakang motornya, kardus tersebut tidak kosong, tapi ada tuylisannya. Awalnya kita kira dia rombongan pemudik juga, tapi dia tidak bawa apa-apa, hmmm…setelah lebih dekat, baru kami tersenyuml..ternyata tulisannya : “Kami segenap warga betawi asli mengucapkan selamat mudik lebaran, hati-hati dijalan dan mohon maaf lahir batin” kurang lebih isinya seperti itu. πŸ™‚ Tidak sedikit yang melewati orang tersebut memberikan jempol kanannya, senyum dan klakson..menandakan mereka menghargai tindakannya tersebut. Sayang aku dan suamiku tidak bisa ikutan memberi jempol, karena saat kami sejajar dengannya, dia berada di sebelah kiri kami, rasanya kurang sopan, tapi itu awal yang sangat berkesan untuk perjalanan mudik kami. πŸ™‚

Katena ini mudik pertama kami, kami berdua sangat memperhatikan jalanan, kali-kali ada petunjuk jalan yang terlewat, karena rencananya kami akan mengambil jalur selatan, kami mencari-cari arah purwakarta dan bandung..tapi sayang, semua arah menunjukan ke cirebon dan jateng..jadilah kami terseret arus mudik ke arah sana. ‘Ami terjebak kemacetan cukup lama di sawah-sawah daerah karawang, untungnya bukan cuma kami, tapi ada ratusan pemudik motor lainnya yang terjebak bersama kami, dalam hati kami berpikir, “hehehe, yang odong bukan cuma kita ternyata…kita ga sendirian :)”Dan ditengah kemacetan tersebut, Cumi mogok, mesinnya kepanasan, jadilah di tempat tersebut kami melakukan istirahat yang pertama dalam perjalanan kami. Sambil menunggu suamiku memperbaiki Cumi, aku berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Jujur..”Aku ga ngerti mereka ngomong apa”, mereka menggunakan bahasa sunda, tapi untungnya..mimik mereka aku masih bisa nangkap sedikit apa yang mereka maksud. Sekitar setengah jam lebih kami disitu, dan setelah cumi siap melakukan perjalanan kembali, suamiku menanyakan arah ke purwakarta kepada penduduk setempat, syukurlah dia bisa sedikit bahasa sunda, karena dulu pernah PKL di tasikmalaya 2bulan.. πŸ™‚ Next, kita lanjut perjalanan…

Jalur selatan benar-benar bikin aku terpesona, keadaan jalannya yang naik turun, berputar-putar melalui bukit-bukit..dipinggiran jalannya dihiasi dengan pepohonan…kadang sesekali kita melewati hutan pinus, hutan karet, bahkan perkebunan tehh…sejuk. Belum lagi sesekali aku mengucapkan “subhanallah” karena pemandangan alam yang sangat indah, bentangan sawah dengan susunan teraseringnya yang beragam, dan bukit-bukit indah dengan air terjun, atau jembatan serta rel kereta diantaranya. Luar biasa Maha Pintar Allah, yang telah menciptakan alam semesta yang indah. Pemandangan ini sangat berbeda dengan pantura, aku biasanya lebih sering melewati pantai-pantai atau tempat pembuatan garam..maklum namanya juga pantura “pantai utara” πŸ™‚

Sampai di nagrek, kami agak kesal..karena terjebak kemacetan hampir 4jam..di sepanjang jalur nagrek ciawi. Apalagi kondisi jalannya yang lebih banyak turunan curam, membuat suamiku harus istirahat berkali-kali karena lelah, menahan bebanku dan mengendalikan motor kopling. Sekitar magrib kami sampai ditasikmalaya kota..jalanan mulai lengang, mungkin pemudik yang lain sedang beristirahat, kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, kami melaju terus, dan syukurlah jam 8 malam, kami sudah sampai di sidareja dengan selamat. Sayangnya sampai disana, kondisiku melemah, aku kedinginan. Mungkin karena kaget, pergantian cuaca, aku biasa panas dijakarta, dan sesampainya disana, dingin…Tapi secara garis besar, aku sangat menikmati perjalanan tadi..sungguh berkesan. πŸ™‚

-berrsambung-

Iklan
By dunianyasiayu Posted in Diary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s