menjelang kelahiran si dede – part 4

Hmmmm,,,
Marhaban ya Ramadhan 🙂
Hari ini hari pertama umat islam menjalani ibadah puasa 🙂

Dan si dede masih betah di dalam perutku, padahal kemarin aku sempat berdoa, pengen dedenya lahir pas kumandang adzan isya yang mengawali sholat tarawih pertama dibulan ramadhan tahun ini,,,,Ternyata Allah berkehendak lain, si dede masih aktif bergerka di dalam perutku 🙂

2minggu aku dirumah ini, membuat aku lebih siap dan tenang menghadapi kelahiran si dede, tapi beberapa hari ini, hari2 menjelang kelahiranku ini jadi ruwet, mungkin karena semua khawatir dengan aku dan si dede

Sudah beberapa kali aku pindah RS dan bidan, survei tempat bersalin, kadang geli liat perlaknya ada bercak2 darah kering,,,mungkin itu bekas orang sebelumnya melahirkan,,,ada juga yang tempat bersalinnya diantara toilet dan ruang periksa, yang ada jika ada orang mau ketoilet, mereka selalu melewati ruang bersalin itu, padahal namanya orang mau lah cuma pake baju ma kain doank, dah gak pake daleman,,,keadaan seperti itu bikin aku pribadi gak nyaman,,,

Untung suamiku sabar, setiap selesai dari RS ataupun bidan untuk survei tempat bersalin, aku selalu mengungkapkan pendapat dan perasaanku,,,,akhirnya sampai suatu malam, kita gak sengaja nanya ma bidan biasa kita cek, subhanallah,,,,tempat bersalinnya aku suka, nyamab bgt, didalam satu ruangan tertutup (kamar) bukan dengan gorden, tidak ada bekas darah sedikit pun, wangi,,,dan ruang rawat inapnya hanya ada 2kasur dewasa dan 1kasur bayi, dengan 2sofa dan 1buah tv,,,bersih dan ada AC, sudah seperti ruangan VIP, dan begitu kagetnya kita, ketika kita tanya biayanya, hanya berkisar 700rb – 1,700,000 (untuk lahiran normal), jika sesar mungkin akan dirujuk ke RS terdekat,,,,

Aku langsung mangatakan kepada suamiku, aku mau pap lahiran disini ajah :), suamikupun hanya tersenyum dan kami berdua pulang dengan perasaan puas.

Malamnya aku bermaksud mengabari kedua orang tuaku, tentang maksud keinginanku untuk lahiran di bidan itu. Rencana sebelumnya, jika sampai minggu ini aku belum lahiran, maka aku akan diboyong ke cengkareng dan lahiran disana. Tapi karena aku sudah menemukan tempat yang nyaman, aku ingin memberitahukan kedua orang tuaku dan meminta doa restu dari mereka.

Tapi, jawaban yang aku dengar tidak seperti yang aku harapkan :(. Ibuku mengatakan aku keras kepala, dan ayahku mengatakan “gak ngerti orang tua khawatir, maksa lahiran disana,,,disuruh disini ajah biar ada yang ngurusin juga”, dan yang parahnya adalah celetukan adikku “emang apaa salahnya lahiran dicengkareng sih?ya dah klo gitu urus sendiri”

Air mataku langsung membanjiri pipiku, nafasku sesak, dan gak lama aku dah sesenggukan,,,bukan ini yang aku harapkan, aku hanya butuh support, aku tahu kalian khawatir, tetapi kekhawatiran kalian malah bikin aku gak nyaman, dan gak tenang,,,telepon aku tutup, dan suamiku langsung memeluk erat aku, sambil memandu aku untuk menarik nafas panjang agar aku tenang,,,,

Keadaan ini membuat aku murung, aku pengen nurut sama suamiku, dan mencari kenyamanan, demi keselamatan aku dan bayiku, tapi disatu sisi aku di cap sebagai anak durhaka yang keras kepala dan gak nurut sama orangtua. Sedih rasanya, saat aku mau lahiran bukan restu dan support yang q dapat, tapi malah suatu gertakan dari kedua orangtua ku,,,

Ada suatu kekhawatiran, aku gak bisa ngelahirin secara lancar kalau aku masih tetap pada pendirianku, walaupun dengan tempat bersalinnya dan bidannya sudah nyaman, karena masalah orang tua belum ridho. Tapi jika aku memaksakan untuk lahiran di cengkareng, kasian suamiku,,,,minggu ini merupakan minggu terberat buatnya. Selain bulan puasa, jarak tempuh cengkareng ke kantornya cukup jauh, dia dikejar dateline kantor dan dituntut untuk sidang tanggal 30 juli ini. Dia memerlukan aku didekatnya untuk menemaninya tiap dia mengerjakan TA, ataupuin sekedar membuatkan es teh manis dan gorengan menemani untuk teman begadangnya. Dan aku butuh dia juga untuk selalu menenangkanku jika si dede nakal, geraknya kenceng sampai buat aku berteriak,,,kami saling membutuhkan…

Aku sudah coba meyakinkan kedua orang tuaku, bahwa aku gak papa, diragunan sendiri, sementara suamiku bekerja, nanti jika sudah merasakan ada flek atau darah, aku bisa minta tolong tetangga dulu untuk mengantarkan aku ke bu bidan, sesampainya di bu bidan, aku akan ngabarin kedua orangtuaku dan juga suamiku,,,agar bisa segera datang dan menemaniku melahirkan. Insya allah waktunya cukup, aku rasa gak akan mbrojol dulu sebelum suamiku dan kedua orangtua ku datang, atau paling tidak, tidak akan mbrojol dulu sampai suamiku datang,,,,Namanya juga anak pertama, selain lubang lahir masih sempit, butuh waktu juga untuk pembukaan 1 ke pembukaan berikutnya,,,,

Tapi ternyata penjelasanku itu membuat ibuku menangis, akhirnya aku dan suamiku mengalah,,,

Insya allah minggu ini kita akan pindah ke cengkareng (rumah orang tuaku), sepertinya percuma berdebat ataupun minta pengertian dari kedua orangtuaku jika ibuku sudah menangis, walaupun misal nanti kita mendengar kata “iya” dari mereka, tapi kita tahu, “iya” itu hanya dilisan saja, pasti di hati mereka belum tentu ridho.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِْ
Semoga keputusan yang kita ambil benar, terima kasih banyak untuk suamiku yang lagi-lagi harus mengalah, maafkan aku kalau nanti ĸªα̲̅Mŭ bakalan jadi capee banget karena keputusan ini. Mam sayang pap 🙂

Iklan
By dunianyasiayu Posted in Diary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s